Jakarta | portaldesa.co.id – Pemerintah Indonesia tidak memiliki niat untuk memberikan biaya yang memberatkan bagi para calon Jamaah Haji untuk berangkat ke Tanah Suci tahun ini, setelah mengumumkan usulan biaya yang ditanggung jamaah menjadi Rp.69 juta Rupiah.
Dirjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah Hilman Latief menegaskan, bahwa pemerintah akan menemukan biaya yang rasional untuk para calon Jamaah Haji yang berangkat pada tahun ini.
Diketahui, biaya Haji usulan pemerintah akan dibahas dengan DPR, untuk kemudian ditetapkan sebagai biaya pelaksanaan.
“Insyaallah dari pemerintah, bahwa Kementerian Agama tidak ada niat untuk memberikan biaya yang memberatkan. Tapi kita juga yang mendorong calon Jamaah untuk bersiap-siap, termasuk keuangan, fisik, dan kesehatan, karena kita ingin mendorong konsep Istitha’ah, yakni : orang yang mampu secara fisik, sehat, dan finansial tetap terjaga”, tegasnya dalam acara Media Gathering ‘Biaya Haji 2023 Naik?’ di Jakarta, pada Selasa (24/1/2023).
Kenaikan biaya penyelenggaraan Haji disebabkan ketidakpastian perekonomian global yang mempengaruhi kurs rupiah, termasuk harga tiket pesawat. Oleh sebab itu, Hilman mengatakan pihaknya berencana untuk melakukan diskusi dengan para calon vendor maskapai.
“Kami dari pemerintah akan menekan serendah-rendahnya dan se-efisien mungkin agar Jamaah Haji tidak berat dan mitra kami di BPKH bisa membiayai. Dengan komposisi tersebut, maka calon Jamaah Haji 2023 harus melunasi setoran awal, dan kombinasi dengan virtual account (VA) yang didistribusikan oleh BPKH”, ungkapnya.
“Yang disebut Jamaah Haji adalah mereka yang sudah memberikan setoran awal, itu yang harus kami pikirkan”, tandasnya, tanpa mengulas akar persoalan penyebab jamaah menanggung lebih besar dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Penyebab Polemik bukan karena Oogkos. Namun, pada pembagian beban dengan BPKH. Polemik besaran ongkos Haji 2023 ini dimulai dari rencana pemerintah mengubah besaran porsi yang ditanggung BPKH berbanding dengan Jamaah.
Kementerian Agama (kemenag) mengusulkan biaya Haji 2023 sebesar Rp.98,89 juta, dan dari jumlah ini, yang harus ditanggung jamaah menjadi Rp.69,19 juta. Nilai tersebut melonjak tajam dari posisi tahun 2022. Tahun lalu, biaya yang ditanggung Jamaah Haji sebesar Rp.39,88 juta.
Kemudian kenapa terjadi lonjakan biaya haji yang harus dibayar jamaah? Ini tidak lepas dari perubahan skema yang diusulkan Kementerian Agama (Kemenag) sebagai wakil pemerintah.
Yaqut Cholil Qoumas menyebutkan, biaya Haji 2023 hanya naik Rp.514.888 dibandingkan periode 2022. Tahun lalu, setiap jamaah menghabiskan biaya selama ibadah Haji dan kembali ke tanah air sebesar Rp.98,38 juta.
Usulan yang diubah oleh Kemenag ialah, bagian yang dibebankan ke Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH). Pada biaya Haji 2022, Jamaah dibebankan ongkos sebesar Rp.39,88 juta (40,54 persen). Sedangkan sisanya Rp.58,49 juta (59,46 persen), diambil dari hasil pengembangan BPKH.
Namun usulan Kementrian agama (Kemenag) untuk Haji 2023, Jamaah menanggung 70 persen atau sebesar Rp.69,19 juta, sedangkan dana dari BPKH dikurangi menjadi hanya sebesar 30 persen atau sebesar 29,7 juta. (Sawijan)